Kamis, 16 Februari 2012

kepemimpinan


A.   Pengertian Kepemimpinan
Menurut John R. Schemerhorn bahwa leadership is  process  inspiring of others to work hard to accomplish important tasks. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa kepmimpinan merupakan proses menginspirasi orang lain agar bekerja keras agar dapat menyelesaikan tugas-tugas yang penting.[1] Overton berpendapat bahwa leadership is ability to get work done with and through others while gaining their confidence and cooperation. Pendapat ini menekankan fokus kepemimpinan terhadap kemampuan seseorang memperoleh tindakan dari orang lain. Dengan begitiu hakikat kepemimpinan juga merupakan kemampuan mempengaruhi orang.
Definisi Kepemimpinan menurut Stogdill ialah  fokus terhadap proses kelompok, penerimaan kepribadian seseorang, seni mempengaruhi perilaku,  alat untuk memengaruhi perilaku, suatu tindakan perilaku, bentuk dari ajakan (persuasi), bentuk relasi yang kuat, alat untuk mencapai tujuan, akibat dari interaksi, peranan yang diferensial, dan  pembuat struktur.[2]
Menurut Yukl (1987)[3], beberapa definisi yang dianggap cukup mewakili selama seperempat abad adalah sebagai berikut:
1.    Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
2.    Kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
3.    Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi
4.    Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi
5.    Kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan
6.    Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.
7.    Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberikan kontribusi yang efektif terhadap orde sosial, serta yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya.


Shelley Kirkpatrick dan Edwin Locke mengidentifikasi  ciri-ciri kepribadian yang menunjang kesuksesan dalam kepemimpinan:[4]
1.    Drive, yaitu memiliki energi yang kuat, menunjukkan inisiatif, dan gigih.
2.    Self-confedence, yaitu yakin terhadap kemampuan yang dimiliki
3.    Creativity, yaitu memiliki kreativitas dalam berpikir.
4.    Cognitive ability, yaitu memiliki integritas dalam menyatukn dan menafsirkan berbagai informasi.
5.    Job-relevant knowledge, yaitu menguasai betul organisasiny dan hal-hal yang bersifat teknis dalm orgnisasi tersebut.
6.    Motivation, yaitu mampu mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan organisasi.
7.    Flexibility, yaitu mampu beradaptasi sesuai dengan keinginan bawahan dan tuntutan situasi.
8.    Honesty and integrity, yaitu terpercaya, jujur, prediktif, dan dapat diandalkan
Berdasarkan berbagai pendapat di atas mengenai definisi kepemimpinan maka dapat ditarik sebuah sintesa bahwa kepemimpinan merupakan seni mempengaruhi orang lain ataupun kelompok dalam rangka penyelasain tugas organisasi secara efektif dan efisien. Jadi kata kunci yang dapat dijadikan indikator dalam kepemimpinan adalah ada orang atau kelompok yang dipengaruhi, adanya relasi yang kuat, adanya proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu, adanya proses memotivasi, kreatif, dan memiliki integritas yang tinggi.
B.   Fungsi  Kepemimpinan
Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
1.  Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
2.  Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.

Secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:
1.    Fungsi Instruktif.
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah
2.  Fungsi konsultatif.
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.
3.   Fungsi Partisipasi
Dalam menjaiankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.
4.  Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang, membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri.
5.  Fungsi Pengendalian.
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
Dijelaskan lebih lanjut oleh James A.F. Stoner bahwa  agar fungsi kepemimpinan dapat beroperasi secara efektif, seorang pemimpin mempunyai dua fungsi pokok yaitu: [5]
1.  Task related atau problem solving function, dalam fungsi ini pemimpin memberikan saran dalam pemecahan masalah serta memberikan sumbangan imfomasi dan pendapat
2.  Group maintenance function atau social function meliputi pemimpin membantu kelompok beroperasi lebih lancar, pemimpin memberikan persetujuan atau melengkapi anggota kelompok yang lain misalnya menjembatani kelompok yang sedang berselisih pendapat.

C.   Teori  Kepemimpinan
Teori kepemimpinan bisa didasarkan pada beberapa perspektif yang berbeda, yaitu 1) fokus dan 2) pendekatan. Perspektif teori kepemimpinan dari dimensi fokus, terdiri dari:
1.  Teori Kepemimpinan Sifat (Traits Theory)
Teori ini memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits), percaya bahwa para pemimpin mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang menyebabkan mereka dapat memimpin para pengikutnya. Daftar sifat-sifat ini dapat menjadi sangat panjang, tetapi cenderung mencakup energi, pandangan, pengetahuan, kecerdasan, imajinasi, kepercayaan diri, integritas, kepandaian berbicara, keseimbangan mental, berani, dan sebagainya.
Edwin Ghiselli, dalam penelitiannya menemukan sifat-sifat tertentu yang penting untuk kepemimpinan yang efektif, yaitu:
a.  Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksanaan fungsi-fungsi dasar manajemen.
b.  Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses
c.   Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif dan daya pikir.
d.  Ketegasan (decisiveness) atau kemampuan-kemampuan membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah dengan tepat.
e.  Kepercayaan diri atau pandangan terhadap dirinya
f.    Inisiatif atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung dan mampu berinovasi
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
a.    Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata–rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
b.    Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
c.    Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
d.    Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.
2.     Teori Perilaku Kepemimpinan
Tidak seperti toeri sifat, teori ini menganggap perilaku-perilaku dapat dipelajari atau dikembangkan sehingga individu-individu dapat dilatih dengan perilaku-perilaku kepemimipinan yang tepat agar mampu memimpin lebih efektif. Teori perilaku memusatkan perhatiannya pada dua aspek, yaitu fungsi-fungsi dan gaya-gaya kepemimpinan. Pandangan perilaku ini dikenal dengan sebutan one best way (satu jalan terbaik). Padahal dalam kenyataannya, setiap organisasi memiliki ciri khusus dan keunikannya, sehingga tidak mungkin organisasi dipimpin dengan perilaku tunggal untuk segala situasi. Situasi yang berbeda harus dihadapi dengan perilaku yang berbeda pula. Oleh sebab itu muncul korelasi  terhadap pendekatan perilaku yang disebut dengan pendekatan kontingensi.
3.     Teori Situasional atau teori kontingensi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan. Teori ini menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan yang dikombinasi dengan situasi akan mampu menentukan keberhasilan pekerjaan. Artinya, situasi yang berbeda harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula.

Model Pendekatan Situasional Kepemimpinan:

Model Kontigensi Fiedler
Vroom, Yetton dan Jago
Model Path-Goal dari House
Model situasional Leadership Hersey-Blanchard
Kualitas kepemimpinan
Pemimpin berorientasi tugas atau hubungan. Pekerjaan harus diatur agar sesuai dengan gaya kepemimpinan
Pemimpin membuat keputusan individual atau kelompok dan dapat memilih dari 5 gaya yang berbeda
Pemimpin dapat meningkatkan keefektifan para pengikut dengan mengaplikasikan teknik motivasi yang tepat
Pemimpin harus mengadaptasi gaya , entah perilaku tugas atau hubungan, berdasarkan keadaan pengikutnya
Asumsi tentang para pengikut
Pengikut akan memilih gaya kepemimpinan yang berbeda tergantung dari struktur tugas, hubungan pemimpin-anggota dan kekuatan posisi.
Pengikut berpartisipasi dalam tingkat yang berbeda dalam pengambilan keputusan suatu masalah
Para pengikut memiliki berbagai kebutuhan yang berbeda, yang harus dipenuhi dengan bantuan pemimpin
Kesiapan pengikut mempengaruhi gaya kepemimpinan yang diadaptasi
Keefektifan pemimpin
Keefektifan pemimpin ditentukan oelh interaksi antara faktor lingkungan dan faktor pribadi
Pemimpin yang efektif memilih set pengambilan keputusan yang tepat dan mengizinkan tingkat partisipasi yang optimal dari para pengikut
Pemimpin yang efektif dalahpemimpin yang memberikan klarifikasi pada para pengikut jalur atau perilaku yang paling tepat

Pemimpin yang efektif mampu mengadaptasi gaya directing, coaching,supporting dan delegating untuk menyesuaikan tingkat kematangan pengikut.

Sejarah penelitian
Ketika hasil penelitian yang tidak melibatkan Fiedler dipakai, diperoleh bukti yang kontradiktif mengenai keakuratan model
Hasil penelitian yang mendukung model ini sangat terbatas dan hasilnya bervariasi . model ini bagi sebagian orang dianggap kompleks meskipun sudah tersedia program komputer yang bisa menelusuri kelompok keputusan yang diambil.
Model ini telah menimbulkan beberapa minat penelitian selama dua dekase terakhir.
Tidak ada penelitian yang cukup memadai untuk mencapai kesimpulan yang pasti mengenai kekuatan prediksi dari model ini

4.  Teori Kelompok
Teori ini beranggapan bahwa supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuan, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.
Sedangkan teori kepemimpinan dari dimensi pendekatan, meliputi:
1.  Teori Kepemimpinan Klasik
a.  Gaya Kepemimpinan Model Taylor
Taylor (1911), seorang ahli teknik mesin sekaligus Bapak Manajemen Ilmiah menemukan gaya kepemimpinannnya dalam memimpin perusahaan sebagai berikut:
1)  Cara terbaik untuk meningkatkan hasil kerja ialah dengan meningkatkan teknik atau metode kerja, akibatnya manusia dianggap sebagai mesin
2)  Manusia untuk manajemen, bukan manajemen untuk manusia
3)  Fungsi pemimpin menurut teori manajemen keilmuan (teori klasik) adalah menetapkan dan menerapkan kriteria prestasi untuk mencapai tujuan
4)  Fokus pemimpin adalah pada kebutuhan organisasi.
b.  Gaya Kepemimpinan Model Mayo
Gaya kepemimpinan Mayo (1920) yang terkenal dengan gerakan hubungan manusiawi merupakan reaksi dan revisi dari gaya kepemimpinan Taylor yang memperlakukan manusia seperti mesin. Akibatnya banyak pegawai yang sakit, bercerai, kacau balau karena hidupnya hanya untuk bekerja, lupa makan dan keluarga. Mayo berpendapat bahwa dalam memimpin harus memiliki kriteria sebagai berikut:
1)  Selain mampu mencari teknik atau metode kerja terbaik, juga harus memperhatikan perasaan dan hubungan manusiawi yang baik
2)  Pusat-pusat kekuasaan adalah hubungan pribadi dalam unit-unit kerja
3)  Fungsi pemimpin adalah memudahkan pencapaian tujuan anggota secara kooperatif dan mengembangkan kepribadiannya.
c.   Studi Iowa
Penelitian kepemimpinan mula-mula dilakukan oleh Lippit dan White pada tahun 1930 di bawah pembimbing Lewin dari Universitas Iowa. Penelitian ini berpengaruh terhadap penelitian-penelitian berikutnya.
Dari hasil penelitiannya, Lewin, et al. (1981) menyimpulkan bahwa terdapat tiga gaya kepemimpinan, yaitu otoriter, demokratis dan laize faire (semaunya sendiri). Pemimpin yang otoriter bertindak sangat direktif, selalu mengarahkan dan tidak memberikan kesempatan bertanya apalagi membantah. Bawahan harus patuh pada perintah atasan tanpa membantah.
Pemimpin demokratis mendorong kelompok untuk berdiskusi, berpartisipasi, menghargai pendapat orang, siap berbeda dan perbedaan tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk didapatkan hikmahnya. Pemimpin demokratis mencoba untuk bersikap objektif dalam memuji dan mengkritik. Sedangkan pemimpin laize faire (semaunya sendiri) memberikan kebebasan mutlak kepada kelompok.

d. 

Struktur Rendah Perhatian Tinggi                   Struktur Tinggi Perhatian Rendah
Pemimpin mendorong hubungan kerja      pemimpin mendorong mencapai
sama harmonis dan kepuasan dengan          keseimbangan pelaksanaan tugas
kebutuhan sosial anggota kelompok             dan pemeliharaan hub kelp yg bersahabat

Struktur Rendah Perhatian Rendah               Struktur Tinggi Perhatian Rendah
Pemimpin menarik diri dan menempati    Pemimpin memusatkan perhatian
peranan pasif. Pemimpin membiarkan       hanya kepada tugas. Perhatian
keadaan sejadinya.                                                     pada pekerja tidak penting.


 
Studi Ohio
            Tinggi


                                    Perhatian             
                                   

  Rendah                                                                     
                                                                                       Struktur                                                  Tinggi
                                                                                       inisiasi
e.  Studi Michigan
Kantor Riset Angkatan Laut mengadakan kontrak kerjasama dengan pusat Riset Survei Universitas Michagan untuk mengadakan penelitian. Tujuan kerjasama ini adalah untuk meneliti prinsip-prinsip produktivitas kelompok dan kepuasan anggota kelompok yang diperoleh dari partisipasi mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan pada seksi produksi lebih menyukai: (1) menerima pengawasan dari pengawas-pengawas mereka yang bersifat terbuka dibandingkan yang terlalu ketat; (2) sejumlah otoritas dan tanggung jawab yang ada dalam pekerjaan mereka; (3) memberikan pengawasan terbuka pada bawahannya dibandingkan pengawasan yang ketat; dan (4) berorientasi kepada pekerjaan dan produksi (Likert, 1962).
Penelitian mengidentifikasikan dua konsep gaya kepemimpinan, yaitu berorientasi pada bawahan dan berorientasi pada produksi. Pemimpin yang berorientasi pada bawahan menekankan pentingnya hubungan dengan pekerja dan menganggap setiap pekerja penting, diperhatikan minatnya, diterima keberadaannya dan dipenuhi kebutuhannya. Pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan pentingnya produksi dan aspek teknik-teknik kerja. Pekerja diperlakukan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi.

2.  Teori Kepemimpinan Modern
Lima penemuan dalam teori kepemimpinan klasik merupakan tonggak sejarah yang amat penting bagi pengembangan teori kepemimpinan. Teori kepemimpinan terdiri atas pendekatan:
a.  Teori Pendekatan Sifat-Sifat (Traits Approach Theory)
Pendekatan ini berdasarkan pada sifat seseorang yang dilakukan dengan cara:
1)  Membandingkan sifat yang timbul sebagai pemimpin dan bukan pemimpin
2)  Membandingkan sifat pemimpin yang efektif dengan pemimpin yang tidak efektif
Northhouse (2007) membedakan sifat-sifat kepemimpinan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Perbedaan Sifat-Sifat Kepemimpinan:
Stogdill (1948)
Mann (1959)
Stogdill (1974)
Lord, DeVader & Alliger (1986)
Kirkpatrick & Locke (1951)
Cerdas
Waspada
Mampu memahami sesuatu

Bertanggung Jawab

Inisiatif

Kokoh

Percaya diri

Berjiwa Sosial
Cerdas
Kesatria
Mampu mengatur

Dominan

Terbuka

Konservatisme
Pencapaian hasil
Kokoh
Mampu memahami sesuatu

Inisiatif
Percaya diri
Bertanggung jawab
Kerja sama
Toleransi
Berpengaruh
Berjiwa sosial
Cerdas
Kesatria
Dominan
Mampu mengarahkan

Motivasi
Integritas
Percaya diri
Memiliki kemampuan kognitif

Mengetahui tugas-tugas

Hasil penelitian Gheselli terhadap 300 manajer dari 90 lembaga berbeda di Amerika Serikat menemukan enam traits kepemimpinan efektif, yaitu:
1)  Kebutuhan mencapai hasil: bertanggung jawab, kerja keras untuk sukses
2)  Intelegensi: menggunakan pertimbangan yang matang, mempunyai alasan yang jelas dan kemampuan berpikir
3)  Mampu mengambil keputusan: dapat mengambil keputusan yang sulit tanpa ragu-ragu
4)  Inisiatif: dimulai dari diri sendiri, melakukan pekerjaan dengan baik, dengan pengawasan yang minimal
5)  Kemampuan supervisi: dapat bekerjasama bersama orang lain.
                                   
Pendekatan sifat-sifat berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan diciptakan (Leader are born, not build). Artinya, seseorang telah membawa bakat kepemimpinan sejak dilahirkan bukan dididik atau dilatih. Pemimpin yang dilahirkan tanpa melalui diklat sudah dapat menjadi pemimpin yang efektif. Pelatihan kepemimpinan hanya bermanfaat bagi mereka yang memang telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Artinya, seseorang yang tidak memiliki sifat dan bakat kepemimpinan yang dibawa sejak lahir, tidak perlu dilatih kepemimpinan karena akan sia-sia saja.
b.  Pendekatan Perilaku (Gaya-Gaya Kepemimpinan)
Pendekatan sifat ternyata tidak mampu menjelaskan apa yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin yang efektif. Oleh karena itu, pendekatan perilaku merevisinya. Dikarenakan perilaku dapat dipelajari, maka pemimpin dapat dilatih dengan perilaku kepemimpinan yang tepat agar menjadi pemimpin yang efektif.
Pendekatan ini menjelaskan perilaku kepemimpinan yang membuat seseorang menjadi pemimpin yang efektif. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menggunakan gaya (style) yang dapat mewujudkan sasarannya.
Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu. Gaya tersebut bisa berbeda–beda atas dasar motivasi, kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.
G.R Terry (1960) sebagai salah satu pengembang ilmu manajemen mengemukakan tipe kepemimpinan sebaga berikut:
1.  Kepemimpinan Pribadi (personal leadership)
Seorang manajer dalam melaksanakan tindakan selalu dilakukan dengan cara kontak pribadi. Instruksi ini disampaikan secara oral atau langsung pribadi disampaikan oleh manajer yang bersangkutan.
2.  Kepemimpinan Nonpribadi (nonpersonal leadership)
Segala peraturan dan kebijakan yang berlaku pada organisasi disampaikan melalui bawahannya atau melalui media nonpribadi baik rencana instruksi maupun program.
3.  Kepemimpinan Otoriter (authoritarian leadership)
Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Kekuasaan sangat dominan digunakan. Memusatkan kekuasaan dan pengambilan keputusan bagi dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga mau melakukan apa saja yang diperintahkan. Kepemimpinan ini pada umumnya negatif, yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun demikian, ada juga beberapa manfaatnya antaranya memungkinkan pengambilan keputusan dengan cepat serta memungkinkan pendayagunaan pegawai yang kurang kompeten.
4.  Kepemimpinan Demokratis (Democrative leadership)
Ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan yang demokratis, pemimpin cenderung bermoral tinggi dan dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri
5.   Kepemimpinan Paternalistik (paternalistic leadership)
Dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapaan dalam hubungan antara manajer dengan perusahaan. Tujuannya untuk melindungi dan memberikan arah, tindakan, perilaku ibarat peran seorang bapak kepada anaknya.
6.  Kepemimpinan Menurut Bakat (indigenous leadership)
Biasanya muncul dari kelompok informal yang didapatkan dari pelatihan meskipun tidak langsung. Dengan adanya sistem persaingan dapat menimbulkan perbedaan pendapat yang seru dari kelompok yang bersangkutan. Bisasayna akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan diantara mereka yang ada dalam kelompok tersebut. Pada situasi ini peran bakat sangat menonjol sebagai dampak pembawaan sejak lahir mungkin disebabkan faktor keturunan.
7. Kepemimpinan Partisipasif
Pemimpin atau pengikut saling tukar menukar ide dalam pembuatan keputusan, dengan peranan pemimpin yang utama memberikan fasilitas dan berkomunikasi. Gaya ini melibatkan perilaku hubungan kerja yang tinggi dan perilaku berorientasi tugas yang rendah.
8. Kepemimpinan Delegasi
Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. Yaitu Pemimpin menghindari kuasa dan tanggung jawab, kemudian menggantungkannya kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi masalahnya sendiri.
Selain 8 tipe kepemimpinan yang disimpulkan oleh Terry diatas, para peneliti juga mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan, yaitu;
1)    Task oriented = berorientasi tugas
Gaya ini lebih memerhatikan pada penyelesaian tugas dengan pengawasan yang sangat ketat agar tugas selesai sesuai dengan keinginannya. Hubungan baik dengan bawahannya diabaikan, yang penting bawahan harus bekerja keras, produktif dan tepat waktu.
2)    Employee oriented = berorientasi pada bawahan atau karyawan
Gaya kepemimpinan ini cenderung lebih memerhatikan hubungan yang baik dengan bawahannya, lebih memotivasi karyawannya ketimbang mengawasi dengan ketat, dan lebih merasakan perasaan bawahannya.
Kelemahan jika seorang pemimpin berorientasi pada tugas (task oriented) ialah kurang disenangi bawahannya karena bawahan dipaksa bekerja keras agar tugas-tugas selesai dengan cepat dan baik. Kelebihannya adalah pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu. Sebaliknya, kelemahan jika pemimpin berorientasi pada bawahan adalah pekerjaan banyak yang tidak selesai pada waktunya. Kelebihannya adalah pemimpin disenangi oleh sebagian besar bawahannya. Untuk menjadi pemimpin yang efektif digunakan keseimbangan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. Gaya ini disebut gaya kepemimpinan transaksional.[6]
c.    Kepemimpinan Situasional-Kontingensi
          Pendekatan ini merevisi pendekatan perilaku yang ternyata tidak mampu menjelaskan kepemimpinan yang ideal. Pendekatan ini menggambarkan bahwa gaya yang digunakan tergantung dari pemimpinnya sendiri, dukungan pengikutnya, dan situasi yang kondusif. Para ahli sepakat bahwa kepemimpinan yang efektif (Ke) ditentukan oleh Pemimpin (P), pengikut (p) dan situasi (s) berfungsi optimal, yang dirumuskan Ke = f (P,p,s)
          Dalam menganalisis motivasi pokok bawahannya, pemimpin dapat menempatkan pada situasi yang sesuai. Kualitas hubungan pemimpin dengan anggota kelompok adalah yang paling berpengaruh pada keefektifan kepemimpinannya sehingga kepemimpinannya tidak begitu perlu mendasarkan pada kekhususan formalnya. Sebaliknya, jika ia tidak disegani atau tidak dipercaya maka ia harus didukung oleh peraturan yang memberi ketenangan untuk menyelesaikan tugasnya.

Kepemimpinan Transaksional danTransformasional
Selain model kepemimpinan diatas terdapat pula kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional. Peran timbal balik dari seorang pemimpin disebut dengan kepemimpinan transaksional. Pemimpin transaksional membantu para pengikutnya untuk mengidentifikasi apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam menggunakan gaya transaksional, pemimpin berpegang pada imbalan kontijen dan manajemen dengan pengecualian. Penelitian menunjukan ketika reinforcement bersifat kontijen, para pengikut akan memperlihatkan peningkatan kinerja dan kepuasan. [7]
Tipe pemimpin yang lain adalah pemimpin transformasional, yaitu pemimpin yang memotivasi para pengikutnya untuk bekerjasama mencapai sebuah tujuan  bukan untuk kepentingan pribadi  jangka pendek, dan untuk mencapai prestasi dan aktualisasi diri, bukan demi perasaan aman. Pemimpin transformasional mengajak pengikutnya untuk bekerja mencapai tujuan. Visi dari pemimpin memberikan para pengikutnya motivasi untuk melakukan kerja keras yang memberikan imbalan internal.
Pemimpin transaksional akan menyesuaikan tujuan, petunjuk dan misi karena alasan praktis. Sebaliknya, pemimpin transformasional membuat peribahan besar pada misi dari unit organisasi, dan manajemen dari SDM untuk menca[pai visi mereka. Pemimpin transformasional akan merombak seluruh filosofi, sistem dan budaya organisasi. Dalam hal ini pemimpin transformasional akan berpegang pada metode sikap, karisma, dan transitif dalam kepemimpinan. Perkembangan faktor kepemimpinan transformasional  dihasilkan dari penelitian oleh Bass.[8] Ia mengidentifikasi lima faktor (tiga faktor pertama diaplikasikan pada transformasional, dan dua terakhir pada kepemimpinan transaksional). Kelimanya adalah: karisma, perhatian individual, stimulasi intelektual, imbalan yang kontijen, dan manajemen dengan pengecualian. Selain karisma pemimpin transformasional juga membutuhkan kemampuan assessment, kemampuan komunikasi, dan sensivitas terhadap orang lain.




[1]John R. Schemerhorn, Introduction to Management, (Asia: Sons (Asia) Pte Ltd, 2010), h. 434

[2]Stogdill, R.M., Handbook of Leadership A Survey of Theory and Research, (New York: The Free Press, 1974), H. 76
[3]Yuki, Gary., Leadership.(New Jersey: Pearson, 2010),h.54

[4]Shelley Kirkpatrick dan Edwin Locke,

[5]Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah. Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya.( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008) h. 41

[6]Prof. Dr. Husaini Usman,  Manajemen; Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008.) H. 306,
[7] Francis J. Yammarino, Alan J. Dubinsky, Lucette B. Corner dan marvin A. Jolson. “Women and transformasional and contigent reward Leadership : a multiple –levels- of- analysis Perspective,”academy of management Journal, 1997. p, 205
[8] Bernard M. Bass, Leadership Performance Beyond Expectations (New York : Academic Press, 1985)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar