Selasa, 21 Februari 2012

perencanaan


                                            MANAJEMEN PENDIDIKAN
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata to manage yang berarti mengatur atau pengaturan sedangkan menurut istilah manajemen merupakan proses atau rangkaian kegiatan yang saling berhubungan satu dengan yang lain, meskipun tidak mengikuti rangkaian yang sistematis. Rangkaian itu berisi kegiatan menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan, serta mengawasi orang lain dalam berbuat sesuatu, baik secara perorangan maupun bersama-sama.[1] 
Selain itu, manajemen juga menempatkan suatu kegiatan dalam membimbng suatu kelompok sedemikian sehingga tercapai tujuan bersama dalam organisasi yang bersifat universal berlaku dan terdapat pada kepemimpinan di berbagai bidang kegiatan atau hidup manusia.[2]
Dalam proses pelaksanaannya, manajemen mempunyai tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan. Tugas-tugas khusus itulah yang bisa disebut sebagai fungsi-fungsi manajemen sehingga dalam arah organisasi dimulai dari menentukan arah organisasi di masa depan, menciptakan kegiatan-kegiatan organisasi, mendorong terbinanya kerjasama antar sesama anggota organisasi serta mengawasi kegiatan dalam mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
Dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien itulah, manajemen harus difungsikan sepenuhnya dalam pada setiap organisasi, industri, perbankan, maupun pendidikan.
Menurut Terry fungsi manajemen terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengaturan (controlling) sedangkan Sondang P. Siagian mengemukakan bahwa fungsi manajemen mencakup perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, pengawasan dan penilaian.[3]
Namun dalam makalah ini hanya akan dibahas secara mendalam mengenai fungsi perencanaan (planning) yang pada dasarnya merupakan langkah awal dalam dan sangat mempengaruhi fungsi-fungsi manajemen lainnya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan perencanaan (planning)?
2.      Apakah manfaat dari adanya perencanaan (planning)?
3.      Bagaimanakah tahap-tahap perencanaan (planning)?
4.      Bagaimanakah model-model perencanaan (planning)?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perencanaan (planning)
Perencanaan (planning) merupakan process of setting objectives and determining what should be done to accomplishment (proses penetapan tujuan dan hal yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut).[4] Merencanakan pada dasarnya merupakan proses penentuan kegiatan yang akan dilakukan  di masa depan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini berarti bahwa dalam proses perencanaan terdapat upaya penggunaan sumber daya manusia (human resources), sumber daya alam (natural resources), dan sumber daya yang lainnya (other resources) untuk mencapai tujuan.
Menurut Roger A. Kauffman perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai atau sasaran yang akan dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (the process of setting goals or targets to be achieved or targets to be achieved and specify the path and the resources needed to achieve goals effectively and efficiently).[5] Bateman dan Snell mengemukakan bahwa planning is specifying the goals to be achieved and deciding in advance the approprioriate actions needed to achieve those goals (Perencanaan adalah menentukan tujuan yang harus dicapai dan memutuskan tindakan prioritas yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut).[6] Koontz menyerahkan perencanaan sebagai suatu proses intelektual yang menentukan secara sadar tindakan yang akan ditempuh  dan mendasarkan keputusan-keputusan pada tujuan yang hendak dicapai, informasi yang tepat waktu dan dapat dipercaya, serta memperhatikan perkiraan keadaan yang akan datang.[7] Jadi dapat disimpulkan bahwa   perencanaan merupakan proses menetapkan kegiatan yang akan dilakukan dalam jangka waktu tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Ada beberapa hal yang seringkali membuat seorang manajer skeptis atau bahkan gagal dalam menetapkan tujuan organisasinya. Menurut David A. Kolb, Irwin M. Rubin, dan James M. Myltire adalah hal-hal tersebut adalah:
1.      Keengganan melepaskan tujuan alternatif
2.      Ketakutan akan kegagalan
3.      Kekurangan pengetahuan tentang organisasi
4.      Kekurangan pengetahuan tentang lingkungan
5.      Kurangnya kepercayaan[8]
Selain itu, kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan sebaiknya didasarkan pada fakta-fakta tepat yang telah dikumpulkan  dan dianalisis dengan baik sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan proses perencanaan. Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah 5W1H yaitu:
1.      Apa (what) yang akan dilakukan
2.      Mengapa (why) hal tersebut dilakukan
3.      Syapa (who) yang melakukannya
4.      Dimana (where) melakukannya
5.      Kapan (when) dilaksanakan
6.      bagaiamana (how) melakukannya
Di dalam proses perencanaan ini dirumuskan tindakan awal sebelum melakukan aktivitas dalam suatu organisasi, perencanaan ini merupakan suatu penentu adanya perbedaan kinerja satu organisasi dengan organisasi lain dalam pelaksanaan rencana untuk mencapai tujuan dan menyatakan yang membuat perencanaan tersebut karena sesungguhnya perencanaan itu memberikan arah, mengurangi pengaruh, perubahan, menumbuhkan penyumbangan dan menyusun ukuran untuk memudahkan  proses-proses manajerial yang lain terutama fungsi  pengawasan.[9] Selain itu, perencanaan yang baik dilakukan untuk mencapai:
1.      Protective benefits, yaitu menjaga agar tujuan-tujuan, sumber dan teknik/metode memiliki relevansi yang tinggi dengan tuntutan masa depan sehingga mengurangi resiko keputusan.
2.      Positive benefits, yaitu produktifitas dapat meningkat sejalan dengan dirumuskannya rencana yang komprehensif dan tepat.[10]
Namun perlu dipahami bahwa fungsi perencanaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan pengambilan keputusan (decision making). Hal ini disebabkan karena pada dasarnya suatu keputusan meruapakan suatu resolusi dari kemungkinan alternatif. Suatu keputusan bukanlah suatu rencana apabila di dalamnya tidak menyangkut baik tindakan maupun masa yang akan datang. Keputusan sangat diperlukan pada hirarki preses perencanaan. Oleh karena itu, suatu yang sangat sulit untuk memisahkan antara proses perencanaan dengan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan aspek penting dalam perncanaan, yaitu proses pengembangan dan pemulihan arah untuk memecahkan permasalahan tertentu. Keputusan harus diambil pada setiap titik dalam proses perencanaan.

B.     Manfaat Proses Perencanaan (benefits of planning)
Di dalam dunia organisasi, berbagai tekanan atau hambatan bisa datang dari berbagai hal. Secara eksternal, berbagai hambatan bisa ditimbulkan oleh etika pengharapan, aturan pemerintah, ketidakpastian ekonomi global, perkembangan teknologi, dan pembelanjaan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, kapitalisasi, dan berbagai sumber daya yang lainnya.  Secara internal, hambatan bisa ditimbulkan oleh upaya efisiensi operasi, strukut dan teknologi baru, pengaturan alternatif kegiatan, kemajemukan di tempat kerja, dan yang bethubungan dengan tantangan dalam proses manajerial. Akan tetapi, diharapkan di dalam proses perencanaan memiliki berbagai manfaat baik bagi organisasi maupun pribadi.[11]
Adapun  berbagai manfaat dari proses perencanaan adalah:
1.      Perencanaan dapat mengembangkan Fokus dan Fleksibilitas (Planning Improves Focus and Flexibility)
Perencanaan yang baik dapat mengembangkan fokus dan fleksibilitas, Keduanya sangat penting demi kesuksesan kinerja. Suatu organisasi dengan titik fokus atau perhatian yang baik dapat mengetahui hal terbaik yang bisa dilakukan, kebutuhan pelanggan (pengguna jasa), dan mengetahui cara melayani mereka dengan baik. Suatu organisasi dengan fleksibilitas yang baik akan serta dapat mengubah dan beradaptasi terhadap pergeseran atau perubahan situasi, dan beroperasi dengan orientasi menuju masa depan yang lebih baik dari sebelumnya.
2.      Perencanaan dapat Mengembangkan Orientasi Kerja (Planning Improves Action Orientation)
Perencanaan merupakan suatu cara atau jalan bagi seseorang atau organisasi untuk tetap terdepan dalam suatu kompetisi dan menjadi lebih baik dari yang sedang mereka kerjakan. Hal tersebut dapat menjaga masa depan yang terlihat seperti sebuah target kinerja dan meningatkan kita dalam pengambilan  keputusan yang terbaik yang dapat kita terapkan sebelum berbagai permasalahan muncul. Hal ini tentu saja dapat menghindarkan serta menjaga kita dari berbagai peristiwa atau permasalahan yang akan dapat menganggu pencapaian tujuan.
3.      Perencanaan dapat Mengembangkan Koordinasi dan Pengawasan (Planning Improves Coordination and Control)
Perbedaan individu, kelompok dan subsistem dalam organisasi dapat muncul dalam berbagai kegiatan dengan berbagai perbedaan dalam waktu yang sama. Akan tetapi, berbagai upaya harus menambah kontribusi untuk saling memahami bagi seluruh unsur-unsur dalam organisasi. Ketika rencana dikoordinasikan antara seseorang dengan subsistem, terdapat kemungkinan sangat bahwa merekan mengkombinasikan prestasi yang sangat canggih.
Ketika perencanaan dilaksanakan dengan baik akan memfasilitasi atau dapat membantu proses pengawasan. Tahap pertama dalam perencanaan adalah menetapkan tujuan dan standar, dan hal ini adalah prasyarat dalam pengawasan yang baik. Tujuan yang ditetapkan dengan perencanaan yang baik dapat membuat pengawasan  lebih mudah untuk mengukur hasil dan memilih suatu kegiatan sesuai dengan kebutuhan.[12] 
Selain berbagai manfaat tersebut di atas, salah satu manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya perencanaan yang baik adalah kemampuan membaca yang hal yang sedang terjadi dan memproyeksikan kecenderungan hal yang akan terjadi sehingga perncanaan dapat menjadi alat peubah yang memiliki tingkat validitas yang tinggi dengan resiko yang minimal. Hal ini dikarenakan masa yang akan datang memang tidak dapat dideskripsikan secara pasti namun dapat diestimasi kemungkinan yang akan terjadi dengan membaca kecenderungannya di masa kini.


C.    Tahap-tahap dalam Perencanaan
Pada dasarnya semua kegiatan perencanaan melalui empat tahapan dasar sebagai berikut:
1.      Tahap pertama adalah menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keptusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber daya secara tidak efektif.
2.      Tahap kedua yaitu merumuskan keadaan saat ini. Pemahaman akan posisi organisasi sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau berbagai sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan merupakan hal yang sangat penting karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang.
3.      Tahap ketiga adalah mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan. Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan.
4.      Tahap keempat yaitu mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam proses perencanaan ini meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan.[13] 
Sedangkan menurut Banghart dan Trull, tahapan-tahapan perencanaan meliputi:
1.      Menentukan masalah perencanaan, meliputi:
a.       Gambaran ruang lingkup permasalahan
b.      Mempelajarai berbagai hal yang telah terjadi
c.       Menetapkan apa yang ada dan yang seharusnya ada atau kenyataan dan harapan
d.      Sumber-sumber dan keterbatasannya
e.       Mengembangkan bagian-bagian perencanaan dan prioritasnya
2.      Analisis masalah perencanaan, meliputi:
a.       Mengkaji permasalahan dan sub masalah
b.      Pengumpulan data dan tbaulasi data
c.       Meramalkan meproyeksikan
3.      Konsep dan desain perencanaan, mencakup:
a.       Identifikasi kecenderungan yang ada
b.      Merumuskan tujuan umum dan khusus
c.       Menyusun rencana
4.      Evaluasi rencana, mencakup:
a.       Simulasi rencana
b.      Evaluasi rencana
c.       Memilih rencana
5.      Spesifikasi atau merumuskan rencana, mencakup:
a.       Merumuskan masalah
b.      Menyusun hasil rumusan dalam bentuk final plan draf  atau rencana akhir
6.      Implementasi rencana, melipti:
a.       Persiapan rencana operasional
b.      Persetujuan dan Pengesahan rencana
c.       Mengatur aparat  organisasi
7.      Balikan pelaksanaan rencana, mencakup:
a.       Monitoring rencana
b.      Evaluasi pelaksanaan rencana
c.       Mengadakan penyesuaian, perubahan atau merancang yang perlu dirancang lagi, bagaimana perancangannya dan oleh siapa.[14]
Menurut Koontz H. dan O’Donnel, tahap-tahap fungsi perencanaan yang baik melibatkan tahap-tahap sebagai berikut:
1.      Establishment of objectives (pembentukan tujuan):
a.       Perencanaan membutuhkan pendekatan sistematis.
b.      Perencanaan dimulai dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai
c.       Tujuan memberikan alasan untuk melakukan berbagai kegiatan serta menunjukkan arah usaha.
d.      Selain itu tujuan memfokuskan perhatian manajer pada hasil akhir yang ingin dicapai.
e.       Sebagai soal fakta, tujuan memberikan inti untuk proses perencanaan. Oleh karena itu, tujuan harus dinyatakan dalam bahasa yang jelas, tepat dan tidak ambigu. Jika tidak, kegiatan yang dilakukan pasti tidak efektif.
f.       Sejauh mungkin, tujuan harus dinyatakan dalam istilah kuantitatif. Sebagai contoh, Jumlah orang yang bekerja, upah yang diberikan, unit yang diproduksi, dll Tapi tujuan seperti itu tidak dapat dinyatakan dalam istilah kuantitatif seperti kinerja manajer pengendalian mutu, efektivitas manajer personalia.
g.      Tujuan tersebut harus ditentukan dalam istilah kualitatif.
h.      Oleh karena itu tujuan harus praktis, dapat diterima, dapat dikerjakan dan dapat dicapai.
2.      Establishment of Planning Premises (pembentukan landasan perencanaan)
a.       Tempat perencanaan asumsi tentang bentuk hidup dari peristiwa-peristiwa di masa depan.
b.      Mereka melayani sebagai dasar perencanaan.
c.       Pendirian tempat perencanaan berkaitan dengan penentuan mana satu cenderung menyimpang dari rencana aktual dan penyebab penyimpangan tersebut.
d.      Ini adalah untuk mengetahui hambatan-hambatan apa yang ada di perjalanan bisnis selama operasi
e.       Pendirian tempat perencanaan yang bersangkutan untuk mengambil langkah-langkah seperti yang menghindari hambatan-hambatan untuk sebagian besar.
f.       Perencanaan tempat mungkin internal atau eksternal. Internal mencakup modal kebijakan investasi, manajemen hubungan industrial, filosofi manajemen, dll Sedangkan eksternal meliputi perubahan sosial-ekonomi, politik dan ekonomis.
g.      Tempat internal dikontrol sedangkan eksternal adalah non-dikontrol.
3.      Choice of alternative course of action (pemilihan tindakan alternatif)
a.       Ketika perkiraan yang tersedia dan tempat ditetapkan, tentu saja sejumlah alternatif tindakan harus dipertimbangkan.
b.      Untuk tujuan ini, setiap alternatif akan dievaluasi dengan menimbang pro dan kontra dalam terang sumber daya yang tersedia dan persyaratan organisasi.
c.       Manfaat, kerugian serta konsekuensi dari setiap alternatif harus diperiksa sebelum pilihan sedang dibuat.
d.      Setelah evaluasi yang obyektif dan ilmiah, alternatif terbaik dipilih.
e.       Para perencana harus mengambil bantuan dari berbagai teknik kuantitatif untuk menilai stabilitas alternatif.
4.      Formulation of derivative plans (perumusan rencana turunan)
a.       Rencana turunan, rencana sub atau rencana sekunder yang membantu dalam pencapaian rencana utama.
b.      Rencana sekunder akan mengalir dari rencana dasar. Ini dimaksudkan untuk mendukung dan expediate pencapaian rencana dasar.
c.       Rencana ini detail termasuk kebijakan, prosedur, aturan, program, anggaran, jadwal, dll Sebagai contoh, jika memaksimalkan keuntungan merupakan tujuan utama dari perusahaan, rencana derivatif akan mencakup maksimalisasi penjualan, maksimisasi produksi, dan minimisasi biaya.
d.      Rencana turunan menunjukkan jadwal waktu dan urutan menyelesaikan berbagai tugas.
5.      Securing Co-operation (mengamankan kerjasama)
a.       Setelah rencana telah ditentukan, maka perlu lebih dianjurkan untuk mengambil bawahan atau mereka yang harus melaksanakan rencana ini dalam keyakinan.
b.      Tujuan di balik membawa mereka ke dalam kepercayaan adalah:
c.       Bawahan akan merasa termotivasi karena mereka terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
d.      Organisasi mungkin bisa mendapatkan saran berharga dan perbaikan formulasi serta implementasi rencana.
e.       Juga karyawan akan lebih tertarik dalam pelaksanaan rencana ini.
  1. Follow up/Appraisal of plans (tindak lanjut/penilaian rencana)
a.       Setelah memilih tindakan tertentu, itu dimasukkan ke dalam tindakan.
b.      Setelah dipilih rencana diimplementasikan, penting untuk menilai efektivitasnya.
c.       Hal ini dilakukan berdasarkan umpan balik atau informasi yang diterima dari departemen atau orang yang bersangkutan.
d.      Hal ini memungkinkan manajemen untuk penyimpangan benar atau memodifikasi rencana.
e.       Langkah ini menetapkan hubungan antara perencanaan dan pengendalian fungsi.
f.       Tindak lanjut harus berdampingan pelaksanaan rencana sehingga dalam terang pengamatan yang dilakukan, rencana masa depan bisa dibuat lebih realistis.[15]

D.    Model-model Perencanaan
Dalam proses perencanaan, terdapat beberapa model-model perencanaan yang dapat diterapkan oleh para manajer. Model-model tersebut antara lain:
1.      Diagram Balok (bar chart)
Diagram balok (bar chart) sering juga disebut diagrma Gannt (Gannt chart) karena diagram ini memberilan gambran tentang kegiatan terperinci suatu proye, waktu memulai sikap kegiatan, dana lamanya kegiatan tersebut. Dalam diagram balok ini terdapat dua macam sumbu, yaitu absis dan ordinat atau dua dmensi yaitu vertikal dan horisontal. Dimensi vertikal menunjukkan tugas yang harus dilaksnakan, sedangkan dimensi horisontal menunjukkan waktu, mulai dari yang ditentukan.[16]
Kekurangan atau kelemahan diagram ini adalah hubungan kegiatan lainnya tidak tergambarkan, tdak dapat diidentifikasi, kegiatan mana yang yang merupakan kegiatan kritis (kegiatan yang tidak boleh ditunda) yang apabila pelaksanaannya tertuda mengakibatkan gangguan terhadap peyelesaian  keseluruhan proyek. Oleh karena itu, proyek yang besar yang memerlukan kontrol waktu secara ketat, koordinasi dan analsisi biaya yang cermat.[17]
2.      Diagram Milstone
Diagram Milstone sering juga disebut diagram struktur penacrian kerja . Diagram ini menggambarkan unsur-unsur fungsional suati proyek dengan keterkaitannya secara fungsional. Struktur ini dibuat berdasarkan pemecahan struktur proyek yang disusun secara hirarkis[18].
3.      PERT dan CPM
a.       PERT
PERT yang meruapakan akronim Program Evaluatioan and Review Techniquest atau Teknik Evaluasi dan Peninjauan Program (TEPP), yiatu suatu metode yang memaksa dan memungkinkan manajer memikirkan setiap program dan proyek penting sebagai keseluruhan secara detail. Tekinik ini menunjukkan kepada manajer kemungkinanan terjadinya hambatan , dan membantu mereka memecahkan permasalahan yang timbul, serta menetukan batas waktu yang lebiih cepat karena danya pengendalian yang efektif dan berkesinambungan. Menurut  Leven dan Kirkpatrick, dalam menetukan teknik ini terdapat dua konsep yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu peristiwa dan aktivitas.[19] 


b.      CPM
Aktivitas
Waktu
Biaya
Biaya mempercepat per minggu
Normal
Cepat
Normal
Cepat
1
5
3
Rp 900.0000
Rp.1.300.000
Rp. 200.000
2
3
2
Rp 400.0000
Rp    700.000
Rp 300.000
3
2
1
Rp 300.0000
Rp    400.000
Rp 100.000
4
7
5
Rp 800.0000
Rp 1.100.000
Rp 150.000
5
6
3
Rp 600.0000
Rp   7500.000
Rp   50.000
6
5
3
Rp1.000.0000
Rp1.200.000
Rp 100.000
7
6
4
Rp 900.0000
Rp1.200.000
Rp1.500.000
CPM merupakan akronim dari Critical Path Method atau Metode Jalur Kritis (MJK) adalah suatu teknik perencnaan dan pengendalian yang digunakan dalam proyek yang memiliki data biaya dari masa lampau. metode ini memungkinkan seorang manajer menyelesaikan pekerjaan dalam waktu sesingkat mungkin  dengan kerja lembur seminimum mungkin, tambahan tenaga kerja ataupun kerja lembur seminimum mungkin, tamabahan tenaga kerja atau tambahan peralatan kerja, serta tidak terkena sanksi apapun apabila penyelesaian pekerjaan tersebut terlambat.[20] Contoh :






 
 

DAFTAR PUSTAKA


Bateman, Thomas, dan Scott A. Snell. Management: Leading & Collaboration in the Competitive World. Edisi VIII. New York: Mc Graw-Hill Companies. 2009

Engkoswara, dan Aan Komariah. Administrasi Pendidikan. CV Alfabeta. 2010

Fattah, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2008

Handoko, T. Hani. Manajemen. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta. 2003

Kauffman, Roger A.  Educational System Planning. New York: Prentice Hall Inc, 1972

Koontz H., dan O’Donnel. Management: A Book of Reading. New York: McGraw Hill Publishing Company. 1968

Schemerhorn, John R. Intoduction to Management. Asia: Sons Pte Ltd. 2010

Siswanto, H. B.  . Pengantar Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2011

Siswanto Nawawi, Hadrawi, dkk.  Kepemimpinan Yang Efekif. Yogyakarta: Gadjah  Mada University Perss. 2002

Soetopo, Hendiyat dan Wasty Soetomo. Kepemimpinan  dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 1998

Syafaruddin. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Jakarta: PT Ciputat Press. 2005

Koontz H., dan O’Donnel, Management: A Book of Reading(New York: McGraw Hill Publishing Company, 1968)




Contoh Bagan PERT

 



[1]Hadarawi  Nawawi, dkk, Kepemimpinan Yang Efekif, (Cet. III; Yogyakarta: Gadjah  Mada UniversityPerss, 2002), p. 75
[2]Hendiyat Soetopo dan Wasty Soetomo, Kepemimpinan  dan Supervisi Pendidikan, (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1998), p. 1
[3]Ibid h. 61

[4]John R. Schemerhorn, Intoduction to Management, (Asia: Sons (Asia) Pte Ltd, 2010), p. 17
[5]Roger A. Kauffman, Educational System Planning, (New York:Prentice Hall Inc, 1972)
[6]Thomas Bateman, dan Scott A. Snell. Management: Leading & Collaboration in the Competitive World. (Edisi VIII; New York: Mc Graw-Hill Companies, 2009)

[7]Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung: CV Alfabeta , 2010), p. 132
[8]Siswanto, Pengantar Manajemen,  (Cet. VII; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), p. 55
[9]Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, (Cet. I; Jakarta: PT Ciputat Press, 2005), p. 67
[10]Engkoswara dan Aan Komariah, Op cit., p.133

[11]John R. Schemerhorn, Op cit., p. 183
[12]Ibid., p. 185
[13]T. Hani Handoko, Manajemen, (Edisi II, Cet. VIII; Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2003), p.79
[14]Engkoswara dan Aan Komariah, Op cit., p.136
[15]Koontz H., dan O’Donnel, Management: A Book of Reading(New York: McGraw Hill Publishing Company, 1968)
[16]Nanang Fattah, Op cit. p. 61

[17]Ibid, h. 62
[18]Ibid, h. 63
[19]H.B. Siswanto, Op cit, h. 57

[20]Ibid, h. 59

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar