Selasa, 21 Februari 2012

meningkatkan efektivitas sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

Mutu pendidikan di Indonesia sudah memprihatinkan, hal itu ditandai dengan kurangnya prestasi akademik, kurangnya kreativitas, serta kemandirian siswa. Selain itu, relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat semakin dipertanyakan dan menyebabkan masyarakat pesimis terhadap sekolah.
Dengan adanya perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi atau otonomi daerah  dan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan dan penyesuaian relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, pemerintah menerapkan sistem pengelolaan sekolah yang baru yang dinamakan managemen berbasis sekolah (MBS).
MBS  dipandang dapat menjadi solusi untuk masalah pendidikan di atas. Dalam MBS sekolah diberi kewenangan untuk mengelola sekolahannya sendiri, sehingga tiap sekolah dituntut untuk dapat membuat program-programnya sendiri untuk mengatasi masalah yang ada pada sekolah tersebut. Di dalam MBS juga menerapkan prinsip PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) sehingga siswa diharap dapat lebih kreatif dan mandiri dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik mereka.  Peran serta masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan juga sangat diperlukan . Karena definisi efektivitas sekolah menjadi sesuatu yang sangat berbeda  tergantung cara pandang mereka. Diharapkan dengan peran serta masyarakat , dapat meningkatkan efektifitas  sekolah dengan kebutuhan masyarakat, selain itu, masyarakat dapat membantu pelaksanaan program yang mereka rencanakan sendiri, kemudian melakukan pengawasan dan evaluasi sendiri.
Pemahaman efektivitas sekolah merupakan sesuatu yang sangat sulit tanpa menjalankan fungsi sekolah. Berbagai sekolah mungkin saja memiliki tampilan yang berbeda dan efektifitas bagi fungsi dan tujuan yang berbeda. Contoh, beberapa sekolah mungkin baik dalam membantu peserta didik, pengembangan pribadi, sedangkan beberapa sekolah lainnya menjadi sesuatu yang luar biasa dalam hal teknis kompetensi produksi untuk kebutuhan komunitas.
Berdasarkan sebuah perpektif input – output, efektivitas sekolah sering diasumsikan sebagai sebuah gabungan atau  perbandingan antar rasio ( jika dalam akal kuantitatif )  yaitu apa yang telah dimasukan ke dalam sekolah dan yang dapat diproduksi oleh sekolah.
















BAB II
MENINGKATKAN EFEKTIFITAS SEKOLAH

A.      Pengertian Efektivitas
Pengertian efektivitas secara umum menurut  Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa : “Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektifitasnya”. Sedangkan pengertian efektivitas sekolah menurut Taylor adalah sekolah yang sumber dayanya diorganisasikan dan dimanfaatkan untuk menjamin semua siswa, tanpa memandang ras, jenis kelamin, maupun status sosial-ekonomi. Sehingga dapat mempelajari materi kurikulum yang esensial di sekolah. Sekolah harus mengengoptimalan pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana termuat di kurikulum. Kurikulum terdapat pada Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Efektivitas sekolah sering dihubungkan dengan school efficiency ( efisiensi sekolah). Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan.
Secara konseptualisasi efektivitas sekolah mempunyai 6 (enam) elemen diantaranya yaitu:
1.        What criteria ( apa criteria)
2.        Effective for whom ( efektivitas untuk siapa)
3.        Who to define ( definisi untuk siapa)
4.        How to evaluate ( bagaimana mengevaluasinya)
5.        When to evaluate (kapan dievaluasi)
6.        Under what environmental constraints (di bawah kendala lingkungan apa)
Dari ke enam elemen tersebut mempunyai permasalahan yang sering muncul karena ada beberapa hal tampak tidak sesuai dengan standar elemen yang diterima oleh semua sudut konstitusi evaluasi.
Sebuah sekolah merupakan suatu organisasi yang berada di dalam konteks social yang berubah dan kompleks. Semua itu dibatasi oleh sumber daya yang terbatas serta melibatkan konstitusi yang beragam diantaranya otoritas pendidikan, administrasi sekolah, para guru, peserta didik, orang tua, pembayaran pajak, pendidikan, dan public. (Cheng, 1993).
B.       Fungsi Untuk Mencapai Efektivitas Sekolah.
Efektivitas Sekolah menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam menjalankan fungsinya secara maksimal. Fungsi untuk mencapai efektivitas sekolah di bagi menjadi 5 (lima) antara lain:
1.      Fungsi ekonomis adalah memberikan bekal kepada siswa agar dapat melakukan aktivitas ekonomi, sehingga dapat hidup sejahtera. Di dalam fungsi ekonomi terdapat beberapa level di antaranya yaitu:
a.       Level individu. Sekolah membantu pesreta didik untuk memperoleh kebutuhan pengetahuan dan keterampilan untuk bertahan dan berkompetensi dalam masyarakat moderen atau kompetisi ekonomi memberi kesempatan kerja.
b.      Level institusi. Organisasi layanan memberikan kualitas dalam melayani klien. Seperti memberikan tempat hidup dan tempat kerja
c.       Level komunitas local dan masyarakat. Sekolah melayani ekonomi atau kebutuhan instrumental, memasok kekuatan tenaga kerja yang berkualitas untuk system ekonomi, memodifikasi membentuk perilaku ekonomi terhadap pengembangan dan stabilitas struktur ekonomi tenaga kerja.
d.      Level internasional. Sekolah memasok kebutuhan kekuatan berkualitas tinggi dalam kompetisi internasional, seperti kerjasama ekonomi, perlindungan bumi, pertukaran teknologi dan informasi

2.      Fungsi sosial-kemanusiaan adalah sebagai media bagi siswa untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat. Di dalam fungsi social kemanusiaan terdapat beberapa level di antaranya yaitu:
a.       Level individu. Membantu peserta didik untuk mengembangkan psikologi diri secara social dan fisik dalam mengembangkan potensi diri.
b.      Level institusi. Sekolah merupakan entitas atau system strata social diri interaksi manusia yang beraneka ragam.
c.       Level komunitas local dan sosial. Mendukung integrasi social dari aneka ragam dan konstitusi masyarakat yang berbeda. Memfasilitasi pergerakan social dalam struktur kelas yang ada dari latar belakang yang berbeda.
d.      Level internasional. Sekolah mereproduksi eksistensi kelas social yaitu mengabadikan perbedaan social. Hal ini dikarenakan untuk membangkitkan kesadaran global. Dimana sekolah diharapkan untuk memainkan sebuah peran penting dalam menyiapkan siswa untuk keharmonisan internasional
3.      Fungsi politis adalah sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warga Negara, serta mengacu pada kontribusi sekolah untuk pengembangan politik pada level masyarakat yang berbeda. Di dalam fungsi politis terdapat beberapa level di antaranya yaitu:
a.       Level individu. Sekolah membantu peserta didik untuk pengembangan tingkah laku sipil yang positif dan kemampuan untuk HAM dan kewajiban bernegara.
b.      Level internasional. Sekolah bertindak secara sistematis mensosialisasikan peserta didik kedalam aturan norma-norma politik, dan nilai kepercayaan. Sekolah sering menjadi sebuah koalisasi politik para guru, orang tua, dan peserta didik yang dapat berkontribusi bagi stabilitas struktur kekuatan pemerintah.
c.        Level komunitas dan social. Sekolah memainkan sebuah peran penting untuk melayani kebutuhan politik dari komunitas social, legitimasi eksistensi autoritas pemerintah, mempertahankan stabilitas struktur politik.
d.      Level internasional. Sekolah menggerakan damai anti perang, dan penghapusan konflik antar agama dan bangsa.
4.      Fungsi budaya media untuk melakukan transmisi dan transformasi budaya untuk pengembangan level social yang berbeda.
5.      Fungsi pendidikan sekolah sebagai wahana untk proses pendewasaan dan pembentukan kepribadian siswa. Serta kontribusi sekolah dalam mengembangkan dan pemeliharaan pendidikan pada level yang berbeda.
Fungsi-fungsi tersebut ada yang menjadi fungsi umum (notice function) dalam arti berlaku bagi semua jenis dan/atau jenjang sekolah, dan adapula yang lebih menonjol pada jenis-jenis sekolah tertentu (distinctive function), seperti pada sekolah-sekolah yang memiliki ciri keagamaan, sekolah-sekolah kejuruan, atau jenis-jenis sekolah lainnya. Oleh karena kata efektif itu sendiri mengandung pengertian tentang derajat pencapaian tujuan yang ditetapkan, maka upaya perumusan konstruk dan indicator efektivitas sekolah tidak dapat dilepaskan dari konsep tentang kemampuan (kompetensi) yang hendak dikembangkan melalui pendidikan di sekolah.
Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan, berbagai kelemahan yang berkembang di masyarakat, dan mempertimbangkan akar budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

C.      Perkembangan Fungsi Sekolah dalam Multilevel
v  Efektivitas sekolah di USA, Averch, dll mengatakan bahwa mayoritas sekolah telah dipandang sebagai pelaksana lima fungsi penting yaitu:
1.        Sosialisasi
2.        Pemersatu dan pendisiplinan kekuatan dalam sebuah masyarakat yang beragam asal-usul,
3.        Penyotiran, pengidentifikasian peran masyarakat sosial ekonomi masa depan
4.        Anak didik, misalnya mengembangkan pengetahuan dan pelatihan ketrampilan.
5.        Pengembangan literatur terkenal dengan minimal sedikit pekerjaan yang berhubungan dengan ketrampilan dan dorongan seperti individual attributes as creativity and self-reliance (atribut kemandirian kreatifitas dan kemandirian) (1974;3)
Pada tahun 1989, presiden USA menyelenggarakan puncak pendidikan dengan pemerintas dan mereka mulai dalam usaha yang bersejarah untuk mengubah tekanan pendidikan nasional diantaranya yaitu:
1.      Pada tahun 2000, semua anak di amerika akan mulai belajar giat di sekolah
2.      Pada tahun 2000, tingkat lulusan SMA akan meningkatkan sedikitnya 90 persen
3.      Pada tahun 2000, semua peserta didik di Amerika yang lulus kelas empat, delapan, dan dua belas telah mendemonstrasikan kompetensi dalam tantangan materi pokok, termasuk bahasa inggris, matematika, sains, sejarah, dan geografi. Setiap sekolah di Amerika semua peserta didik belajar memanfaatkan pikiran mereka dengan baik, sehingga mereka mempersiapkan untuk tanggung jawab warga Negara, melanjutkan pelajaran, dan menciptakan lapangan kerja dalam ekonomi global
4.      Pada tahun 2000, peserta didik USA akan menjadi yang pertama di dunia dalam prestasi sains dan matematika
5.      Pada tahun 2000, setiap remaja akan menjadi terpelajar dan akan berproses pengetahuan dan kebutuhan keterampilan untuk berkompetisi dalam ekonomi global dan penegakan HAM dan kewajiban bernegara
6.      Pada tahun 2000, setiap sekolah akan bebas dari narkoba dan kekerasan serta akan menawarkan sebuah lingkungan belajar disiplin ekonomi yang kondusif
Dari beberapa tujuan tersebut, fungsi sekolah di Amerika adalah sebuah lingkungan yang disiplin, membantu peserta didik untuk belajar giat, sarjana sukses memperoleh kompetensi dalam materi akademik, khususnya matematika dan sains, serta disiapkan untuk kewajiban bernegara, dan membuka lapangan kerja dalam ekonomi global.
v  Efektivitas sekolah di Hong Kong, tujuan mendasar layanan pendidik sekolah adalah untuk membangun potensi setiap anak sehingga peserta didik menjadi berfikir independen dan remaja yang sadar social, dibekali dengan pengetahuan, ketrampilan dan prilaku yang membatu mereka dalam memimpin kehidupan individual dan bermain dalam peran positif dalam komunitas hidup (Education dan Mandpower Branch, 1993:8). Layanan pendukung sebaiknya bertujuan untuk mengantarkan ke hal-hal sebagai berikut:
1.      Bagi individu, apa pun kemampuan mereka, setiap sekolah sebaiknya membantunya, dengan cara memberikan kebutuhan pendidikan yang spesial untuk mengembangkan potensi mereka baik secara akademik maupun non akademik, seperti literature, perhitungan, keterampilan belajar, praktik dan keterampilan teknik, social, politik, dan kesadaran bernegara, perkembangan fisik, dan perkembangan budaya.
2.      Bagi komunitas, pendidikan sekolah sebaiknya bertujuan menghadapi kebutuhan komunitas bagi masyarakat yang dapat berkontribusi bagi pengembangan social dan ekonomi Hong Kong.
Selain untuk tujuan formal yang berkaitan untuk pendidikan peserta didik, sekolah melayani fungsi implisit atau eksplisit dalam level yang berbeda di dalam pandangan social baik sosiologi fungsionalisme atau teori konflik. Contoh fungsionalisme mendorong pendidikan sekolah dapat memfasilitasi pergerakan social dan perubahan social tetapi teori konflik beranggapan pendidikan sekolah memproduksi kembali struktur kelas dan mempertahankan perbedaan dalam level social.
Harus dipahami bahwa sekolah sebagai satu kesatuan system pendidikan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling bergantung satu sama lain. Dengan demikian, pengembangan kompetensi pada diri siswa tidak dapat diserahkan hanya pada kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelas, melainkan juga pada iklim kehidupan dan budaya sekolah secara keseluruhan. Setiap sekolah sebagai satu kesatuan diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar kepada seluruh siswanya untuk menguasai keempat kompetensi di atas sesuai dengan jenjang kependidikannya dan misi khusus yang diembannya.

D.      Katagori Efektivitas Sekolah.
Berdasarkan konsep fungsi sekolah dapat didefinisikan efektivitas sekolah sebagai kemampuan sekolah memaksimalkan fungsi sekolah. Sehingga kepala sekolah dapat menampilkan fungsi sekolah, ketika diberikan suatu input yang tepat. Sejak adanya lima tipe fungsi sekolah, efektivitas sekolah melanjutkan pengklasifikasian ke dalam lima tipe. Contoh efektivitas teknis/ekonomi mewakili kapasitas sekolah untuk memaksimalkan fungsi teknis/ekonomi, sehingga di kelompokkan ke dalam lima level.
Berdasarkan gabungan dari 5 tipe dan 5 level, terdapat 25 katagori dari efektifitas sekolah. lihat table dibawah ini:
TINGKAT
Efektivitas teknis / ekonomi 
Efektifitas Manusia atau sosial
Efektivitas Politik
Efektivitas Budaya
Efektivitas pendidikan
Efektivitas sekolah di tingkat individual
ET tingkat individu
ES tingkat individu
EP tingkat individu
EB tingkat individu
EP tingkat individu
Efektifitas sekolah di tingkat institusional
ET tungkat kelembagaan
ES tungkat kelembagaan
EP tungkat kelembagaan
EB tungkat kelembagaan
EP tungkat kelembagaan
Efektifitas sekolah di tingkat komunitas
ET tingkat komunitas
ES tingkat komunitas
EP tingkat komunitas
EB tingkat komunitas
EP tingkat komunitas
Efektifitas sekolah di tingkat masyarakat
ET tingkat masyarakat
ES tingkat masyarakat
EP tingkat masyarakat
EB tingkat masyarakat
EP tingkat masyarakat
Efektifitas sekolah di tingkat internasional
ET tingkat internasional
ES tingkat internasional
EP tingkat internasional
EB tingkat internasional
EP tingkat internasional
    
Asumsi dari ide efektivitas sekolah adalah sesuatu yang dapat diterima serta sekolah menyesuaikan ide-ide untuk organisasi sekolah dan menggunakannya untuk membedakan efektivitas sekolah dari efisiensi berdasarkan cara berikut ini:
1.             Efektivitas sekolah yaitu dalam istilah non moneter atau proses (nomor buku teks, organisasi sekolah, pelatihan profesianalisme guru. Strategi mengejar, pengaturan pembelajaran, dsb) kemudian membandingkan output fungsi kedalam non moneter input (proses) dapat dikatakan efektivitas sekolah.
2.             Efisiensi sekolah yaitu input moneter. Contoh 1000 input setiap siswa, biaya buku, gaji, biaya oportuniti, dsb). Kemudian membandingkan antara fungsi output sekolah dan input moneter dapat dikatakan efisiensi sekolah. dengan pertimbangan dari lima fungsi sekolah pada lima level, efisiensi sekolah dapat dikatakan sama dengan klasifikasi kedalam 25 katagori termasuk efisiensi teknis/ekonomi, efisiensi potilik, efisiensi manusia/social, efisiensi budaya, dan efisiensi pendidikan di level individual, institusional level, komunitas local level masyarkat dan level internasional.

E.       Indicator Efektivitas Sekolah
Penilaian efektivitas sekolah perlu dilakukan dengan cara mengkaji bagaimana seluruh komponen sekolah itu berinteraksi satu sama lain secara terpadu dalam mendukung keberhasilan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, efektivitas sekolah dalam penelitian ini diidentifikasi melalui beberapa indikator sebagai berikut:
Indikator Efektivitas Sekolah
No
Indikator
Sub Indikator
1.
Supporting input
·         Dukungan orang tua dan masyarakat
·         Lingkungan belajar yang sehat
·         Dukungan yang efektif dari system pendidikan
·         Kelengkapan buku dan sumber belajar
2.
Enabling conditions
·         Kepemimpinan yang efektif
·         Tenaga guru yang kompeten, fleksibilitas, dan otonomi
·         Waktu di sekolah yang lama
3.
School climate
·         Harapan siswa yang tinggi
·         Sikap guru yang efektif
·         Keteraturan yang disiplin
·         Kurikulum yang terorganisasi
·         System reward dan insentif bagi siswa dan guru
4.
Teaching – learning process
·         Tuntutan waktu belajar yang tinggi
·         Strategi mengajar yang bervariasi
·         Pekerjaan rumah yang sering, penilaian dan umpan balik yang sering
·         Partisipasi (kehadiran, penyelesaian studi, dan kelanjutan studi.











BAB III
KESIMPULAN
                 Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari Manajemen Berbasis Sekolah yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut :
·         Kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik , orang tua, dan guru.
·         Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya local
·         Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru dan iklim sekolah.
Efektivitas sekolah di Indonesia seharusnya dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupannya di masa depan, yaitu: (a) kompetensi keagamaan, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan keagamaan yang diperlukan untuk dapat menjalankan fungsi manusia sebagai hamba Allah yang Maha Kuasa dalam kehidupan sehari-hari, (b) kompetensi akademik, meliputi pengetahuan, sikap, kemampuan, dan keterampulan yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sesuai dengan jenjang pendidikannya, (c) kompetensi ekonomi, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampulan yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi agar dapat hidup layak di dalam masyarakat, dan (d) kompetensi sosial pribadi, meliputi pengetahuan, system nilai, sikap, dan keterampilan untuk dapat hidup adaptif sebagai warga negara dan warga maysarakat internasional yang demokratis.
Pendidikan harus mengubah paradigmanya. Norma-norma dan keyakinan-keyakinan lama harus dipertanyakan. Sekolah mesti belajar untuk bisa berjalan dengan sumber daya yang sedikit. Para profesional pendidikan harus membantu para siswa mengembangkan keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk bersaing dalam perekonomian global. Sayangnya, kebanyakan sekolah masih memandang bahwa efektifitas akan meningkat hanya jika masyarakat bersedia memberi dana yang lebih besar. Padahal dana bukanlah hal utama dalam perbaikan pendidikan.Efektifitas sekolah akan meningkat apabila administrator, guru, staf dan anggota dewan sekolah mengembangkan sikap baru yang terfokus pada kepemimpinan, kerja tim, kooperatif, dan akunbilitas.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar