Selasa, 21 Februari 2012

mengeloala perubahan pendidikan


MANAJEMEN PENDIDIKAN
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih di masa mendatang, telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia, pada intinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, seta merubah perilaku serta meningkatkan kualitas menjadi lebih baik.
Pada kenyataannya pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana, melainkan suatu kegiatan yang dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan akan selalu berubah seiring dengan perubahan zaman, setiap saat pendidikan selalu menjadi fokus perhatian dan bahkan tak jarang menjadi sasaran ketidakpuasan karena pendidikan menyangkut kepentingan semua orang, bukan hanya menyangkut investasi dan kondisi kehidupan di masa yang akan datang, melainkan juga menyangkut kondisi dan suasana kehidupan saat ini. Itulah sebabnya pendidikan senantiasa memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat.
Keharusan untuk melakukan perubahan dalam lingkungan yang penuh turbulensi dan dinamika merupakan sebuah fakta kehidupan bagi kebanyakan organisasi-organisasi termasuk di dalamnya adalah organisasi sekolah. Organisasi sekolah sudah tidak seharusnya menunggu hingga organisasinya mengalami proses kemunduran dan barulah mengadakan perubahan. Saat ini semua organisasi sudah seharusnya secara terus menerus melakukan prediksi dan mengantisipasi kebutuhan akan perubahan.
            Perubahan kerorganisasian (organizational change) dapat diartikan sebagai tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari kondisi yang sebelumnya (the before condition) menjadi keadaan kondisi yang setelahnya (the after condition). Transisi dari kondisi awal hingga kondisi kemudian memerlukan suatu proses transformasi, yang tidak selalu berlangsung dengan lancar, mengingat bahwa perubahan-perubahan seringkali disertai dengan beraneka ragam konflik yang muncul. Salah satu sasaran manajemem perubahan adalah mengupayakan agar proses transformasi tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif cepat dengan kesulitan-kesulitan yang seminimal mungkin.
Perkembangan zaman menuntut adanya perubahan, begitupun dalam bidang pendidikan. Harapan pada pendidikan yang lebih baik telah menjadi tuntutan banyak pihak. Sekolah sebagai wujud dari sebuah lembaga pendidikan dituntut untuk mengalami perubahan dan terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang baik. Oleh karena itu perubahan dalam sekolah menjadi trend di seluruh dunia.
Dalam pengelolaan pendidikan dengan model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) kewenangan dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan tentu disesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan masing-masing sekolah secara lokal. Dapat dipastikan bahwa perubahan kebijakan dalam pelaksanaannya bukan persoalan yang sederhana. Perubahan kebijakan memerlukan kesiapan berbagai sumber daya dan kemampuan pengelola di tingkat sekolah. Namun yang lebih penting adalah pemahaman dan kesiapan pengetahuan yang memadai tentang apa dan bagaimana sistem baru dalam bentuk desentralisasi harus dilakukan oleh sekolah.
Beberapa alasan pokok yang menuntut terjadinya perubahan kebijakan dalam pengelolaan sekolah, antara lain:
1.   Tuntutan masyarakat terhadap sekolah
Semakin tingginya kehidupan sosial masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan tuntutan tersebut bermuara kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan dating. Pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen pendidikan di sekolah.
2.   Perkembangan kebijakan politik sentralisasi dan desentralisasi
Perubahan suasana sosial politik di Indonesia yang muncul dari adanya krisis ekonomi kemudian berkembang menjadi krisis sosial politik berimplikasi kepada perubahan dalalm berbagai bidang antara lain bidang pendidikan. Isu sentralisasi dan desentralisasi yang sebelumnya telah dimunculkan sebagai upaya pemberdayaan daerah telah semakin menguat  terdorong oleh suasana perubahan politik kenegaraan semakin diyakini bahwa salah satu upaya penting yang harus dilakukan dalam peningkatan kualitas pendidikan, adalah dengan pemberdayaan sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yang intinya memberikan kewenangan (delegation of outhority) kepada sekolah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan (Quality continous improvement).

Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan sebuah perubahan memerlukan proses dan waktu. Dalam setiap organisasi perlu diingatkan bahwa tidak semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang lebih baik hingga hal demikian tentu perlu diupayakan agar bila dimungkinkan perubahan diarahkan ke arah yang lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya. 
Kebutuhan akan perubahan berbasis sekolah dijelaskan Persons (1966) dalam teori sistem sosial bahwa sekolah harus memiliki 4 fungsi untuk kelangsungan hidup masyarakat sekolah yaitu:
1.      Adaptasi:  mampu beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan internal maupun eksternal untuk pembangunan berkelanjutan dan menjadikan sekolah yang efektif.
2.      Tujuan prestasi: apabila sekolah mampu berprestasi dan dapat meningkatkan kemampuan guru dan murid untuk mencapai tujuan.
3.      Integritas: integritas dapat menjaga iklim di sekolah menjadi lebih terbuka dan jujur di mana anggota sekolah merasa puas dan bangga.
4.      Pola pemeliharaan: pola pemiliharaan dapat mempertahankan loyalitas dan membuat seseorang menjadi kebanggan di sekolah mereka sendiri. Ini merupakan tradisi yang baik untuk membuat seseorang ingin menjadi orang yang terbaik.

Fungsi dari adapatasi tersebut diatas menunjukkan bahwa sekolah perlu merespon perubahan lingkungan karena perubahan itu tidak dapat dihindarkan. Jika sekolah berhasil dalam pencapaian tujuan berarti sekolah tersebut sudah memenuhi tiga fungsi yang lainnya seperti integritas, pola pemeliharaan dan jika sekolah tidak mampu memenuhi ketiga unsur tersebut maka kelangsungan hidup sekolah akan terancam.


BAB II
PEMBAHASAN


A.  Arti perubahan berbasis sekolah

Menurut Crandaleisman dan Louis (1986), perubahan berbasis sekolah dibedakan menjadi 2 kategori yaitu: perubahan pedagogik dan perubahan organisasi. Perubahan pedagogik berfokus pada perubahan mengelola kelas, proses pembelajaran dan metode pembelajaran, dll. Perubahan organisasi ada pada perubahan dalam struktur keorganisasian sekolah dan proses  seperti pola manajemen, hirarki wewenang, jaringan komunikasi, gaya pengambilan keputusan dan iklim sekolah. Perubahan berbasis sekolah merupakan proses yang meliputi serangkaian kegiatan sistematis yang direncanakan dan dilakukan oleh anggota sekolah untuk mengubah sekolah berproses pedagogik dan organisasi.

B.  Cara Pandang Perubahan
1.   Perspektif teknologi
Perspektif ini menjelaskan bahwa sekolah bertugas untuk berubah melalui pemikiran rasional yang berfokus pada aspek teknologi. Aspek ini terkait dengan teknologi yang baru dan anggota sekolah. Perspektif ini diasumsikan bahwa diantara orang dan organisasi yang rasional, mereka dapat menangani ketidakpastian dari perubahan melalui informasi, melihat sekolah yang berubah dengan model rasional, peduli akan perubahan dari luar, menganggap sebuah perubahan sebagai sarana mengejar efisiensi dan efektifitas lalu mengendalikan perubahan dengan metode yang sistematik dan umpan balik. Sebagai kesimpulan perspektif ini menekankan kontribusi faktor teknologi (seperti model perubahan, sistem informasi, perilaku, analisis dan tindakan pengambilan keputusan) untuk mengubah berbasis sekolah.
2.   Perspektif politik
          Menurut perspektif politik, sekolah merupakan koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok yang berkepentingan dengan masing-masing bertahan pada niali-nilai yang berlaku dikelompoknya, preferensi, keyakinan, informasi dan pandangan hidup. Perbedaan menjadi konflik yang abadi yang tak terelakkan dalam fungsi sekolah. Perubahan berbasis sekolah, terutama dari aspek organisasi menimbulkan reaksi juga tekanan dari lingkungan eksternal dan merupakan refleksi dari perubahan dalam struktur kekuasaan serta penggunaan sarana yang berbeda dari individu sekolah. Perubahan dalam sekolah melibatkan redistribusi SDM, oleh karena itu mempengaruhi hubungan antara individu, kelompok dan sekolah yang dapat menimbulkan konflik. Dalam proses perubahan kekuasaan di sekolah dan kegiatan politik, seperti membangun negosiasi tawar menawar dan perebutan posisi terkadang hal ini dapat membuat perubahan menjadi sukses. Koalisi, konflik dan kompetisi menjadi komponen utama dalam perubahan berbasis sekolah. Menurut perspektif ini sekolah harus memiliki strategi untuk memlih pemimpin politik yang sesuai. Dalam membuat pilihan untuk perubahan sekolah mereka harus menempatkan politik ditempat pertamadan teknologi ditempat kedua. Karena hubungan antara individu dan kelompok yang terlibat sangat halus dan tidak pasti. Hal ini biasanya sulit untuk sepenuhnya dipahami sebagai kontrol proses perubahan sekolah. Tujuan perubahan berbasis sekolah merupakan hasil interaktif, perundingan antara anggota internal dan koalisi yang tidak direncanakan secara rasional dan mereka mungkin berubah sesuai dengan pergeseran hubungan kekuasaan diantara koalisi.
3.   Perspektif budaya
Para perspektif budaya mengasumsikan bahwa perilaku atau kinerja anggota sekolah pada tingkat individu, kelompok atau seluruhnya dibentuk oleh budaya sekolah. Berbagai nilai, keyakinan, norma dan asumsi tentang manajemen pendidikan, sekolah dan hidup diantara anggota sekolah. Menurut perubahan berbasis sekolah, perspektif ini tidak dapat dipahami hanya kinerja yang nyata dari tujuan, prosedur dan perilaku. Dalam proses perubahan harus dipelajari untuk membentuk budaya sekolah. Kesuksesan  proses perubahan berbasis sekolah bukan hanya dalam perilaku yang dangkal tetapi juga nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan keyakinan anggota sekolah. Dengan kata lain perubahan berbasis sekolah itu perubahan budaya. Oleh karena itu apakah perubahan berbasis sekolah dapat berhasil diterapkan tidak hanya bergantung pada perubahan teknologi tetapi juga perubahan yang sesuai dengan budaya sekolah.

C.    Dimensi perubahan berbasis sekolah
Ada tiga dimensi dalam perubahan berbasis sekolah, yaitu:
1.   Kategori aktor perubahan
Ada tiga kategori aktor perubahan berbasis sekolah, yaitu perubahan dalam pelaksanaan, perubahan dukungan, dan perubahan dalam target. Secara umum ketiga kategori tersebut mengacu pada prinsip, pelaksana administrasi, guru dan murid dalam organisasi sekolah. Petugas administrasi bertugas merespon untuk membuat strategi dan program sekolah, guru sebagai pemberi dukungan atau penerima proses perubahan dan membuat perubahan dalam mengajar sedangkan siswa sebagai pelaksana penerima perubahan untuk mencapai tujuan sekolah
2.   Tingkat perubahan
Perubahan berbasis sekolah mungkin terjadi pada tingkat yang berbeda, yaitu individu, kelompok, dan sekolah. Ini berarti bahwa penggagas perubahan atau penerima dapat mengubah individu anggota sekolah, sekelompok anggota sekolah atau seluruh anggota sekolah. Terkadang beberapa perubahan berbasis sekolah diprakarsai oleh kepala sekolah atau hanya satu staff senior dan target perubahan atau penerima  perubahan adalah seluruh guru, atau siswa. Sudah tentu ini tidak mudah dalam melakukan perubahan berbasis sekolah. Hal ini bisa dimulai dari sekelompok staf, didukung oleh  kepala sekolah kemudian diperluas ke seluruh sekolah
3.   Domain perubahan
Perubahan berbasis sekolah dapat terjadi di tiga perbedaan daerah dari kenggotaan sekolah, yaitu daerah kognitif, daerah afektif dan daerah perilaku atau budaya sekolah. Perubahan kognitif dari anggota sekolah biasanya tersembunyi. Contoh umum adalah memperoleh nilai baru dan keyakinan baru tentang pendidikan dan manajemen. Selanjutnya pemahaman pembangunan pendidikan dan memerlukan kembali makna baru kegiatan kehidupan atau aktifitas mengajar. Perubahan kognitif sangat penting karena ini dapat menjadi dasar untuk perubahan perilaku yang efektif. Perubahan afektif mengacu kepada perubahan didalam kepuasan anggota sekolah, komitmen, motivasi dan hubungan antar manusia. Perubahan perilaku  bahasa yang terbuka dalam mengajar dan belajar interaksi sosial, pada umumnya berhubungan kepada perubahan perilaku dari anggota sekolah baik individu, kelompok, dan tingkat sekolah. Perubahan budaya sekolah biasanya tercermin dalam perubahan kognitif dan afektif dari anggota sekolah ditiga tingkat.
 
D.  Tahapan perubahan
Dalam mekanisme manajemen berbasis sekolah, perubahan berbasis sekolah bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Tidak perlu atau tambahan. Ini adalah hasil alamiah dari perencanaan, pengembangan sekolah atau manajemen untuk melayani proses pembangunan jangka panjang dan efektivitas sekolah. Ini harus dimasukkan dalam rencana sekolah atau rencana program dan bertujuan untuk mendukung pencapaian tujuan sekolah. Singkatnya, harus dimulai, direncanakan dan dikelola oleh mekanisme manajemen berbasis sekolah.
            Adapun tahapan dalam melakukan perubahan yaitu:
1.      Pencairan (unfreezing)
Pada tahapan ini, hal-hal yang dilakukan yaitu:
a.   Mengidentifikasi, membangun, dan mempublikasikan kebutuhan akan perubahan
b.   Merencanakan tujuan dan kebijakan untuk perubahan melalui mekanisme berbasis sekolah
c.   Menganalisis kekuatan dan mengembangkan strategi perubahan
d.   Menyiapkan kebutuhan psikologi, kognitif, dan afektif serta pihak yang akan terlibat dalam perubahan
e.   Menyiapkan sumber daya untuk perubahan
2.      Perubahan (changing)
Pada tahapan ini, hal-hal yang dilakukan yaitu:
a.    Menerapkan perubahan teknologi dalam manajemen dan pengajaran
b.    Menerapkan perubahan budaya berbasis nilai
c.    Mengubah aspek afektif, perilaku, dan kognitif para pelaku yang terlibat baik individu, kelompok, dan sekolah
d.    Memantau  proses perubahan dan memastikan kemajuan terhadap tujuan
e.    Menghindari ketidakpastian dan mengurangi penolakan terhadap perubahan
f.     Belajar ide dan teknik baru serta membangun tujuan baru
3.      Pembekuan ulang (refreezing)
Pada tahapan ini, hal-hal yang dilakukan yaitu:
a.    Mengidentifikasi kebaikan atau keuntungan perubahan
b.    Mengidentifikasi akibat buruk dan menghindarinya
c.    Memperkirakan semua jenis biaya untuk perubahan
d.    Menilai efektivitas perubahan
e.    Membuat rekomendasi untuk yang akan datang
f.     Membuat modifikasi perubahan teknologi
g.    Melembagakan perubahan teknologi yang berhasil
h.    Menginternalisasi perubahan budaya yang berhasil
i.      Mengklarifikasi kegagalan dan mendorong pembelajaran yang berkelanjutan

E.  Strategi perubahan
Whiteside (1978), Schermerhorn, Hunt, Osborn (1982), Bennis, Benne, Chin, dan Corey (1969) membagi strategi perubahan berbasis sekolah menjadi 3 strategi yaitu:
1.    Strategi kekuatan paksaan
Strategi ini menggunakan kekuatan, penghargaan, dan hukuman sebagai kekuatan perubahan berbasis sekolah. Asumsi ini menganggap bahwa sifat masyarakat sekolah adalah sebagai orang ekonomi. Fokus dari perubahan ini adalah keterbukaan sikap masyarakat sekolah. Manajemen perubahan mengutamakan pendekatan atas ke bawah yang tergantung pada kewenangan atau perintah agen perubah. Pengaruh hasil dari perubahan ini hanya berlangsung jangka pendek. Hal itu mungkin hanya bisa digunakan untuk perubahan teknologi bukan untuk perubahan budaya.  
2.    Strategi empiris rasional
Strategi ini menganggap bahwa masyarakat sekolah adalah orang yang rasional. Hal itu digunakan sebagai kekuatan perubahan berbasis sekolah dan menempatkan fokus perubahan pada perubahan kognitif masyarakat sekolah. Manajemen perubahan menekankan pada ajakan rasional dan empiris untuk menunjukkan nilai dari perubahan sekolah. Jika strategi ini berhasil, pengaruh akan dipertahankan untuk jangka panjang. Strategi ini sesuai untuk perubahan budaya dan teknologi di sekolah.
3.     Strategi normatif pendidikan
Strategi ini menganggap bahwa masyarakat sekolah menjadi mitra kerjasama di dalam fungsi sekolah. Dasar yang digunakan untuk perubahan berbasis sekolah mengutamakan kekuatan dan pengaruh personal sebagai agen perubah. Fokus perubahan ini adalah perubahan afektif masyarakat sekolah. Norma, misi sekolah, nilai dan kepercayaan terhadap sekolah menjadi peran penting untuk mendukung perubahan. Manajemen perubahan mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dan perencanaan perubahan. Karena para anggota sekolah benar-benar terlibat dan berkomitmen dalam perubahan, efek perubahan atau hasil dapat diinternalisasikan dan diabadikan secara jangka panjang. Strategi ini sesuai digunakan untuk perubahan budaya.

F.  Teknik perubahan
Dunham dan Pieree’s membagi teknik perubahan berbasis sekolah menjadi 7 teknik yaitu:
1.      Pendidikan dan komunikasi
Saat pengetahuan akan membantu mengurangi ketakutan karena ketidakcermatan atau tidak lengkapnya informasi tentang perubahan berbasis sekolah, teknik ini tepat digunakan. Tujuan utama adalah menyediakan staf dengan informasi yang relevan dan mengerti tentang arti dan keuntungan perubahan untuk mengurangi kesalahpahaman dan penjelasan yang tidak perlu dan menambah kepercayaan serta dukungan mereka. Pada umumnya anggota sekolah bersedia membantu pelaksanaan perubahan setelah yakin. Potensi kelemahan dari teknik ini adalah bahwa hal itu memakan waktu dan mahal.
2.      Pastisipasi dan keterlibatan
Ketika agen perubahan membutuhan informasi dari anggota sekolah lain untuk merancang perubahan berbasis sekolah dan ketika kemungkinan resistensi terhadap perubahan yang tinggi, teknik ini sesuai untuk digunakan. Teknik ini bertujuan untuk mendorong partisipasi staf dan keterlibatan dalam perencanaan perubahan, untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan untuk meningkatkan penerimaan serta komitmen implementasi perubahan. Keterbatasan dari teknik ini adalah biaya yang mahal.
3.      Fasilitatif dukungan
Teknik ini bertujuan untuk memberikan dukungan teknis bagi staf untuk menghadapi dan mengimplementasikan perubahan, seperti keterampilan, pasokan alat pelatihan dan pilihan profesional. Kurangnya keterampilan yang diperlukan atau alat untuk mengimplementasikan perubahan secara efektif, teknik ini adalah tepat digunakan. Hal itu akan meningkatkan kesempatan untuk keberhasilan pelaksanaan. Tentu saja, diperlukan biaya waktu dan uang untuk bahan dukungan dan program pelatihan.
4.      Dukungan emosi
Teknik ini memberikan para anggota yang terlibat dukungan emosional untuk mengurangi kecemasan mereka tentang perubahan. Hal itu adalah relatif murah dan merupakan cara yang baik untuk membantu mereka dengan masalah-masalah penyesuaian pribadi. Tidak sering dilakukan secara sistematis, sehingga hasilnya mungkin tidak begitu efektif
5.      Insentif
Perhatian dari anggota yang terlibat, agen perubahan harus menekankan kepentingan pribadi atau umum. Potensi yang dibawa oleh perubahan atau kompensasi untuk kerugian yang diderita karena perubahan ketika anggota menolak perubahan kecuali mereka bisa mendapatkan keuntungan dari itu, teknik ini dapat berguna. Tentunya bisa sangat mahal dan dapat mendorong lebih banyak perlawanan dengan harapan memperoleh kompensasi lebih.
6.      Manipulasi dan kooptasi
Ketika perubahan berbasis sekolah adalah mutlak diperlukan dan semua teknik lainnya akan tidak efektif atau terlalu mahal, teknik ini mungkin tepat. Manipulasi mengacu secara sistematis mengendalikan perubahan para anggota sekolah yang terlibat sehingga mereka dapat menerima dengan berbasis informasi untuk mendukung perubahan. Kooptasi membuat staf merasa mereka berpartisipasi dalam keputusan perubahan meskipun agen perubahan tidak benar-benar mengambil pendapat mereka secara serius. Teknik ini bekerja dengan cepat tanpa biaya besar tetapi sering tidak etis dan dapat merusak kepercayaan anggota sekolah sebagai agen perubahan.
7.      Paksaan
Melalui deklarasi terbuka, agen perubahan memungkinkan anggota sekolah mengetahui hasil negatif yang mungkin seperti kehilangan pekerjaan atau kesempatan promosi karena tidak taat atau resistensi terhadap perubahan yang direncanakan sekolah. Ketika perubahan harus terjadi cepat, sekolah dan agen perubahan memiliki kekuatan secara signifikan, teknik ini mungkin cocok digunakan. Metode ini tercepat untuk menekan resistensi dan menerapkan perubahan tersebut tetapi juga mengurangi kesukaan anggota dan meningkatkan kebencian mereka.

G.    Penolakan terhadap perubahan
Munculnya penolakan terhadap perubahan bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
1.   Kebiasaan
Jika kebiasaan sudah terbentuk, hal itu memberikan kenyamanan dan kepuasan sehingga masyarakat sekolah enggan untuk merubah kebiasaannya.
2.   Keselarasan
Masyarakat sekolah menyukai keselarasan dengan kebiasaan dan mengharapkan cara-cara berperilaku berdasarkan kebiasaan tersebut. Segala sesuatu yang baru akan mengganggu.
3.   Ancaman
Perubahan di dalam organisasi sekolah mungkin menimbulkan ancaman. Masyarakat sekolah khawatir karena melihat perubahan akan membahayakan mereka bukan untuk kebaikan mereka. Mereka menyadari kemungkinan hilangnya uang, kemanan, dan status.
4.   Kesalahpahaman
Benyak orang sering salah memahami maksud dari perubahan dan percaya bahwa hal tersebut akan banyak merugikan daripada menguntungkan.
5.   Pandangan yang berbeda
Masyarakat sekolah mungkin berbeda penilaian terhadap suatu keadaan. Hal ini tentu bisa menjadi penghambat sebuah perubahan.  




BAB III
KESIMPULAN

Pengelolaan pendidikan telah melalui berbagai proses demi tercapainya pendidikan yang berkualitas. Akan tetapi, perkembangan zaman dan lingkungan datang bergejolak menuntut segala aspek kehidupan untuk berubah sesuai kondisi saat itu. Maka dalam hal ini, membangun ketrampilan dalam menghadapi perubahan menjadi lebih penting. Dalam bidang pendidikan, reformasi pendidikan akhirnya menjadi agenda penting yang harus dilakukan dari level pusat sampai tingkat sekolah.
Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat suatu bangsa. Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusisa serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa, sekolah sebagai institusi pendidikan perlu dikelola, dimanaj, diatur, ditata dan diberdayakan, agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. Sekolah merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat guru, murid, kurikulum, sarana, dan prasarana. Secara eksternal, sekolah memiliki dan berhubungan dengan instansi lain baik secara vertikal maupun horizontal. Didalam konteks pendidikan, sekolah memiliki stakeholders (yang berkepentingan), antara lain murid, guru, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, oleh karena itulah sekolah memerlukan pengelolaan (manajemen) yang akurat agar dapat memberikan hasil optimal sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan semua pihak yang berkepentingan.
Dalam upaya memajukan kualitas pendidikan, tentunya sekolah juga harus senantiasa melakukan perubahan ke arah kebaikan. Perubahan itu memang pasti terjadi dan semua masyarakat sekolah harus bisa memprediksi dan menyiapkan segala kebutuhan untuk perubahan tersebut. Perubahan itu sendiri tidak bisa dilakukan dengan sekejap mata. Perubahan memerlukan tahapan agar bisa diterima oleh semua masyarakat sekolah yang meliputi pencairan (unfreezing), perubahan (changing), dan pembekuan ulang (refreezing). Untuk menghindari adanya penolakan terhadap perubahan, pihak agen perubah bisa menggunakan salah satu atau gabungan dari strategi dan teknik dalam menghadapi perubahan. Dengan mengelola perubahan secara maksimal, harapannya perubahan yang dilakukan dapat bertahan lama dan memberi manfaat yang baik bagi seluruh masyarakat sekolah.  
DAFTAR PUSTAKA

Everard K.B, Morris, Wilson. Effective School Management. London: Paul  
           Chapman Pub. 2004
Nurkholis. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo. 2006
Winardi. Manajemen Perubahan. Jakarta: Kencana. 2006
Yin Cheong Cheng. School Effectiveness and School-Based Management.
           London: Falmer Press. 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar